Rabu, 16 November 2016



cara menghadai sahabat ketika marahan


 1. Pahamilah bahwa semua orang akan dan bisa berubah

Kawan, memang menyenangkan memiliki sahabat baik yang selalu ada baik suka maupun duka, saling memahami perasaan dan pemikiran masing-masing, berjuang bersama meraih mimpi dan cita-cita.

Tapi pahamilah bahwa itu tak kan terjadi selamanya. Akan ada saat-saat sahabat baik kita berubah, bahkan diri kita pun berubah. Orang yang dulu ngaji bareng bisa tiba-tiba menjauh dari jalan dakwah. Dia yang sering menemani, bisa terpisah jarak karena sekolah atau pekerjaan. Malah jika kita bersahabat dengannya karena sikapnya yang ramah, murah senyum, atau peduli. bisa saja sikapnya berbalik 180 derajat. Perubahan yang terjadi pada teman baik pun bisa menimpa kita. Nah pertanyaannya apakah jika dia berubah, atau kita berubah, dan hal-hal itu bisa memicu pertengkaran, akankah kita memutuskan persahabatan?

Kawan, yuk ikhlas buat memahami bahwa segala hal di dunia ini bisa dan akan berubah, tapi persahabatan kita dengan teman-teman baik jangan pernah berubah. Atau kalau pun berubah, jadi lebih erat.

2. Terima jika di antara sahabat baik pun bisa berbeda

Sahabat baik tak harus sama dalam segala hal. Bahkan dalam hal-hal prinsip pun kita mungkin saja berbeda tapi tetap bisa bersahabat.

Sedih banget gegara pilihan di pilpres 2014 beda antar teman, hubungan persahabatan jadi renggang. Karena beda pendapat tentang boleh atau nggak mengucapkan selamat natal, kita jadi diem-dieman atau saling menjelekkan dengan teman baik.

Memang kalau kita beda masih bisa temenan?

Oya bisa banget dong. Kawan, perbedaan sejatinya tak pernah membuat persahabatan runyam. Ustadz Salim A. Fillah, Ustadz Felix Siauw dan Ustadz Firanda sekalipun ketiganya beda harokah, persahabatan tetap langgeng kok. Paling ekstrim nih, sekalipun genre sastra yang diangkat Helvy Tiana Rosa bersebrangan dengan Djenar Maesa Ayu dan Ayu Utami, namun para sastrawan tersebut tetap menjalin hubungan baik bahkan saling melakukan kritik karya.

Aku pribadi punya pengalaman soal ini. Ada seorang akhwat yang dijauhi teman-temannya karena diduga mendalami Islamlib, Syiah dan dekat dengan pastur. Aku memilih sebaliknya, tak peduli dia mau jadi syiah atau Islamlib pun aku bertekad tak kan memutuskan persahabatan kami. Dia teman baik yang teramat sulit kutemukan. Aku tetap menerimanya sekalipun dia malah tertarik dan dekat dengan orang-orang Liberal, Syiah, pastur bahkan para aktivis pluralisme.

Bagiku dia ingin mempelajari tentang hal-hal itu saja, toh hari ini akhirnya dia balik lagi ke jalan dakwah. Alhamdulillah.

3. Mengalah untuk Menjaganya.

Ada kriteria sahabat baik dari Imam Ghazali yang aku sukai,

jika kamu berdua sedang berbeda pendapat atau berselisih paham, niscaya ia akan lebih senang mengalah untuk menjaga. Kawan, bukan berarti kita ada di pihak yang benar dan sahabat baik kita melakukan kesalahan, kita lantas mengancamnya, menjauhinya, mengultimatum, menekan atau menyudutkannya. Hal-hal itu yang ada malah bikin teman baik makin jauh.

Yuk mengalah untuk menjaganya. Bukan mengalah dalam arti membenarkan kesalahannya yak, tapi cukup menerima dia tanpa mensyaratkan dia harus berubah dalam waktu singkat. Cukup katakan padanya..

"My Bro atau My Sis... apapun yang terjadi lo tetap sahabat gue!"

Apalagi untuk masalah-masalah yang lebih sederhana. Mengalah bukan berarti kita kalah, tapi justru kita lebih dewasa darinya dan siap untuk jadi teman baiknya.

4. Mengambil inisiatif untuk meminta maaf

Butuh keberanian besar untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf pada teman kita, Kawan. Tapi butuh kasih sayang luar biasa untuk meminta maaf pada teman sekalipun bukan kita yang salah. Lalu minta maaf untuk apa? Kita minta maaf padanya karena boleh jadi cara kita mengingatkannya dan menasehatinya kurang bijak.

Coba deh ketika bertengkar dengan teman, kita yang minta maaf pertama. Nggak peduli siapa yang ngajak bertengkar duluan atau padahal bukan kita yang salah. Minta maaflah karena sikap yang kurang bijak atau apa yang kita ucapkan bikin dia tersakiti. Boleh jadi teman kita sebenarnya sadar dirinya sendiri yang salah, ketika kita minta maaf duluan akan lebih mudah baginya untuk mengakui kesalahan. Biasanya dia yang lalu meminta maaf. Kalu dua-duanya ngotot, ya nggak akan selesai pertengkarannya.

5. Mulai menjadi pendengar yang baik

Kawan, pertengkaran dan salah paham antar sahabat biasanya terjadi karena keduanya ingin didengar tapi tak mau mendengarkan.

Ketika kita ingin pertengkaran ini berakhir, cobalah untuk mendengarkan dia. Solusinya boleh jadi kita dan sahabat baik udah pada tahu kok, cuma dia butuh didengarkan aja. Mendengarkan tak lantas membuat kita membenarkannya.

Dengan mendengarkan, kita bisa memahami masalah lebih utuh karena tidak hanya melihat masalah dari sisi diri sendiri saja tapi juga dari sisi sahabat kita. Kita juga jadi tak egois dan bisa berempati jika berada di posisi dia. Ketika kita terbiasa mendengarkannya, akan ada fase di mana kita bisa mendengarkan dan memahami tanpa perlu dia mengucapkan satu patah kata pun.

"Setiap orang dengar apa yang kau katakan; seorang sahabat (biasa) mendengarkan apa yang kau katakan; sedang sahabat sejati selalu mendengarkan apa yang tak kau katakan.” --Anonim--


6. Saatnya Mengambil Jarak

Ketika berbagai upaya sudah kita lakukan untuk mengakhiri perselisihan, boleh jadi ini waktu yang tepat untuk mengambil jarak dengan sahabat baik kita, Kawan. Untuk apa? Untuk lebih menghargai persahabatan kita sendiri. Karena tak jarang kita baru bisa menghargai sesuatu setelah kehilangan hal tersebut. Saat seperti ini baiknya kita meminta bantuan orang ketiga yang bisa dipercaya untuk menyelesaikan masalah. Ingatlah selalu, jangan memaksa persahabatan kita harus baik dalam waktu singkat. Kadang perpisahan jarak dan waktu bisa mengobati banyak hal.



7. Berdoa dan selalu mengharapkan yang terbaik untuknya

“Jika engkau punya teman yang selalu membantumu dalam rangka ketaatan kepada Allah maka peganglah erat-erat dia, jangan pernah kau lepaskannya. Karena mencari teman baik itu susah, tetapi melepaskannya sangat mudah sekali.” Imam Syafi'i

Saat raga tak mampu berjumpa, kala kata tak bisa bicara, jangan pernah lepaskan sahabat baik dalam doa-doa terbaik kita untuknya, Kawan. Selalu berikan ruang di hati untuk cinta kita kepadanya, bukan cinta biasa tapi cinta karena Allah.

Kawan, mungkin pertengkaran ini bikin kita ingin berpisah darinya, tapi ingatlah selalu bahwa kita mencintainya dan mengharapkan pertemuan di surga.

"Sesungguhnya Allah pada Hari Kiamat berseru, ‘Di mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini akan Aku lindungi mereka dalam lindungan-Ku, pada hari yang tidak ada perlindungan, kecuali perlindungan-Ku."
(HR. Muslim)

2 komentar:

My Widget